Budaya Apresiatif yang Hilang

Budaya Apresiatif yang Hilang

Yudo Anggoro

Harian ini Senin (20/6/2011) kemarin menurunkan berita utama yang memprihatinkan, tentang rusaknya moral bangsa ini. Disebut memprihatinkan karena kerusakan moral ini terjadi di seluruh lapisan bangsa; mulai dari korupsi yang dilakukan aparat pemerintah dan penegak hukum, kekerasan terhadap anak dan perempuan, tawuran massal antar warga, hingga kasus kecurangan pada ujian nasional.

Maka sangat wajar jika terkait dengan berbagai perilaku menyimpang yang mendera bangsa ini, akan timbul sebuah pertanyaan besar: masih adakah yang bisa kita apresiasi dari bangsa ini? Bangsa yang besar ini kini telah kehilangan budaya apresiatifnya.

Budaya Apresiatif.

Budaya apresiatif sesungguhnya telah lama ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Seorang professor dari Harvard Business School, Rosabeth Moss Kanter (2001) menyebutkan bahwa budaya apresiatif ditandai dengan adanya penghargaan dan rasa saling percaya (trust) di antara masyarakat. Rasa saling percaya hanya akan tumbuh dalam sebuah masyarakat yang terdiri dari orang-orang jujur, berperilaku kooperatif, beretika, serta menjunjung tinggi norma bersama. Rasa percaya timbul dari sebuah dialog yang berlandaskan pada pikiran yang terbuka, dan bukan pada caci maki dan sikap mencela yang kerap kita saksikan di media akhir-akhir ini. Ketika kita menyaksikan ketidakjujuran dan norma masyarakat yang cenderung diabaikan, maka mustahil budaya apresiatif akan terwujud dan dimulailah kerusakan moral bangsa ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Raka dan Anggoro (2004) menunjukkan bahwa budaya apresiatif terdiri atas pemimpin, sistem, dan komunitas yang apresiatif. Pemimpin apresiatif memberikan teladan kepada masyarakat dan tidak segan mengulurkan tangan langsung untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Pemimpin apresiatif menghargai setiap aspirasi yang muncul dan menganggap wajar perbedaan pendapat yang kerap timbul. Jadi manakala kita menyaksikan para pemimpin kita gemar mencela satu sama lain melalui media, ataupun justru menyepelekan suara rakyat, maka kita dapat dengan mudah menilai kualitas para pemimpin kita saat ini. Ataupun ketika sang pemimpin tidak juga turun tangan ketika masyarakat justru sedang membutuhkan sosoknya, maka ia bukanlah pemimpin yang apresiatif.

Sebuah sistem selalu memiliki tujuan, dan sistem apresiatif memiliki karakteristik untuk selalu menghargai, memberi dukungan, dan menilai secara positif setiap aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan sistem tersebut. Pemerintah adalah sebuah sistem, demikian juga sistem hukum dan badan legisllatif yang ketiganya bersama-sama memiliki tujuan menyelenggarakan sistem negara yang bersih dan adil untuk kepentingan masyarakat banyak. Maka alangkah lucunya ketika sistem ini justru memiliki aktivitas yang kontra produktif terhadap tujuan awal sistem negara ini. Ketika kasus korupsi justru ditemukan pada 158 kepala daerah dan 42 anggota DPR, juga kasus pelanggaran yang dilakukan oleh 107 hakim, maka sistem koruptif-lah yang bekerja; bukan sistem apresiatif.

Komunitas apresiatif terdiri dari sekelompok orang  yang memiliki integritas, hati nurani, dan kejujuran. Sebuah komunitas memperlakukan manusia sebagai manusia yang utuh, dihormati seluruh dimensi kemanusiaannya, termasuk cita-citanya, nilai-nilainya, hati nuraninya, dan kepercayaan dirinya. Dalam sebuah komunitas, hubungan didasarkan atas dasar rasa saling percaya dan saling menghormati. Kepedulian terhadap sesama anggota dan kesediaan berbagi juga menjadi ciri yang menonjol dari komunitas yang apresiatif. Kasus kekerasan dan tawuran massal yang kerap terjadi di masyarakat, diikuti oleh memudarnya kejujuran yang bahkan menimpa sistem pendidikan yang merupakan benteng moral terakhir bangsa ini, menunjukkan perilaku komunitas yang sakit. Komunitas yang sakit mengorbankan kejujuran dan hati nurani untuk meraih tujuan yang salah. Ini juga bukan sebuah komunitas yang apresiatif.

Harapan Masih Ada

Maka pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, jika budaya apresiatif mulai tercampakkan di negeri ini, masihkah ada harapan bagi bangsa ini untuk bangkit? Maka jawabannya tentu saja, harapan akan selalu ada.

Budaya apresiatif akan timbul dari sikap kemauan dan keyakinan untuk dapat memiliki pikiran yang positif. Berpikir positif akan menumbuhkan lingkungan yang terbuka, jujur, dan penuh kepercayaan. Hal-hal yang harus dihindarkan dalam perilau yang apresiatif adalah eksklusifisme, budaya sinis, dan budaya transaksional.

Harapan pada budaya apresiatif bangsa ini terletak pada sosok pemimpin yang memiliki integritas tinggi dan memberi teladan. Ia bukanlah sosok yang mengejar popularitas ataupun pencitraan semu. Ia adalah sosok biasa yang bekerja tanpa pamrih dan jujur, menjaga teguh norma-norma masyarakat. Harapan juga masih ada  pada energi positif yang selalu disebarkan oleh individu-individu yang memiliki kejujuran, sebagaimana Ibu Siami yang mempertahankan kejujurannya ketika menghadapi perilaku curang di tengah masyarakat.

Yang dibutuhkan bangsa ini adalah kontribusi positif dan langkah nyata dari seluruh lapisan masyarakat. Siapapun akan bangga dan  mengapresiasi gerakan Indonesia Mengajar yang mengirim sarjana-sarjana terbaik negeri ini untuk menyebarkan ilmu mereka ke seluruh pelosok terpencil di tanah air. Energi positif ini diharapkan akan tertularkan ke segenap lapisan masyarakat.

Siapapun juga pasti akan merasa termotivasi atas prestasi putra-putri bangsa ini yang kerap menggondol medali emas pada berbagai olimpiade sains internasional; ataupun juga pada sosok Sehat Sutardja, orang Indonesia yang berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu orang terkaya di Amerika Serikat.

Memang betul bahwa memberikan apresiasi bukan berarti meniadakan kritik sama sekali. Namun bentuk kritik yang membangun, kritik yang positif, disertai dengan usulan perbaikan juga merupakan bentuk budaya apresiatif yang justru lebih diharapkan oleh para pemangku kepentingan di negeri ini.

Penulis adalah staf pengajar SBM ITB; kandidat doktor kebijakan publik di University of North Carolina, Charlotte, AS.

(unpublished)

About these ads

, , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: